Senin, 24 Mei 2010

Presiden: Enam Alasan Indonesia Peduli Ketahanan Pangan

Jakarta (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memaparkan enam alasan Indonesia harus tetap peduli terhadap ketahanan pangan sekalipun telah berhasil swasembada sejumlah kebutuhan pangan unggulan.

Hal itu dikemuakan oleh Presiden Yudhoyono saat membuka Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010 di Jakarta Covention Center, Senin.

"Ada beberapa alasan mengapa Indonesia harus tetap peduli terhadap ketahanan pangan. Antara lain, bahwa pangan adalah salah satu bagian dari kebutuhan dasar manusia atau basic human need," katanya merujuk pada alasan pertama.

Kepala Negara menegaskan bahwa walaupun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan pangan sendiri, namun ketahanan pangan harus tetap menjadi prioritas utama karena pangan tidak ada substitusinya.

Alasan kedua, kata Presiden, adalah terjadinya peningkatan kebutuhan terhadap pangan karena bertambahnya penduduk dunia.

"Di seluruh dunia terdapat kenaikan dari kelompok `middle class` yang akan mengkonsumsi lebih banyak pangan. Dengan demikian, bukan hanya penduduk bertambah, tapi juga ada peningkatan kebutuhan dari lapisan masyarakat tertentu di dunia," ujarnya.

Pada kesempatan itu Kepala Negara mengatakan apabila jumlah penduduk Indonesia pascasensus penduduk 2010 berada dalam kisaran 235-240 juta maka kebutuhan pangan masih teratasi.

Alasan ketiga, lanjut Kepala Negara, adalah kerusakan lingkungan atau degradasi yang antara lain disebabkan oleh perubahan iklim. Kemudian alasan keempat adalah terjadinya kompetisi antara sumber-sumber pangan dan sumber-sumber energi.

Ia mencontohkan kompetisi penggunaan jagung sebagai sumber bahan pangan dan sumber energi yang dapat mengganggu pasokan jagung bagi bahan pangan.

Alasan kelima, kata dia, adalah keterkaitan perdagangan dan logistik global.

"Manakala negara-negara produsen beras itu ada masalah, sehingga ada krisis, maka akan cepat dirasakan oleh negara-negara lain di dunia," jelasnya.

Sedangkan alasan terakhir adalah Indonesia harus meningkatkan ketahanan pangan, swasembada yang berkelanjutan, karena masih ada kerentanan di bidang pangan.

"Masih ada kerawanan di bidang pangan di berbagai daerah," ujarnya.

Pada kesempatan itu Presiden juga menjelaskan mengenai target peningkatan produksi sejumlah produk unggulan pada 2014 antara lain beras yang ditargetkan mencapai 76 juta ton pada 2014, jagung sebesar 29 juta ton, kedelai sebanyak 2,7 juta ton, gula sebesar 5,7 juta ton dan daging sapi sebanyak 0,55 juta ton.

Konferensi Dewan Ketahanan Pangan yang dilangsungkan setiap dua tahun sekali itu,kali ini bertemakan "Meningkatkan Komitmen Daerah untuk Membangun Kemandirian Pangan dan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan."

Tema tersebut diambil berdasarkan survei Dewan Ketahanan Pangan tahun 2009 yang menunjukkan tingkat keaktifan dan komitmen pemerintah daerah dalam pengelolaan pembangunan ketahanan pangan masih belum optimal.

Sebelum menyampaikan sambutan dan arahannya, Presiden Yudhoyono menyerahkan secara simbolik Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia Tahun 2009 kepada Gubernur Jawa Tengah, Papua, dan Kalimantan Barat, serta Bupati Timur Tengah Selatan NTT, dan Bupati Minahasa Sulut.

Presiden juga mengingatkan setiap kepala daerah untuk menguasai situasi pangan terakhir terutama di daerah masing-masing.

Turut mendampingi Presiden, antara lain, Wakil Presiden Boediono, Ibu Ani Yudhoyono, Ibu Herawati Boediono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Menag Suryadarma Ali, dan Wakil Gubernur DKI Prijanto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar